Love From Lovina

Kapan terakhir kali kalian liburan bareng keluarga?

Saya, bulan Maret 2016 kemarin. Yang ikut liburan banyak, mulai dari cucu yang masih balita sampai neneknya. :)) Tadinya pengin ke lokasi wisata (yang bagus) untuk snorkeling tapi rasanya snorkeling itu kurang pas untuk yang balita. Jadi pilihan beralih ke Pantai Lovina, tujuan utamanya untuk menikmati ‘pertunjukan’ lumba-lumba. Daripada snorkeling, menikmati lumba-lumba di Lovina akan lebih santai. Kita tinggal pakai jaket pelampung untuk berjaga-jaga, duduk manis, lalu setiap melihat pergerakan lumba-lumba di permukaan, kita harus siap-siap teriak, “Di sana!” Setelah itu, kapten perahu akan mengarahkan perahu kita mendekati si lumba-lumba. ❤

Untuk bisa menikmati lumba-lumba secara maksimal, kita harus bangun pagi. Syukurnya, semua anggota jalan-jalan kompak sudah ada di pinggir pantai tepat pukul 5.30 WITA. Nah, ini dia wajah-wajah baru bangun tidur dari peserta di perahu satu.

246

 

Langit berawan, gagal melihat matahari terbit yang bulat sempurna.

252

Lovina: morning happiness. Leh uga dijadikan tagline. :))

294

 

Lumba-lumba in action! Woah!

391

 

Dan ini, wajah-wajah bahagia setelah melihat banyak lumba-lumba seliweran di sekitar perahu dua.

309

*

Yang menjadi pertimbangan tambahan ketika liburan dengan balita dan orangtua dibandingkan traveling sendirian atau dengan teman-teman seumuran, adalah pilihan lokasi menginap yang harus lebih representatif. Kalau backpacker sendirian, menginap di kamar yang model asrama pun tidak masalah.

Dari hasil melihat dan menimbang pilihan hotel di situs penyedia pemesanan hotel, ada tiga hotel/resor yang menurut saya oke. Sebagai penentuan terakhir, saya minta pendapat seorang teman yang bekerja di kota Singaraja. Katanya, Bali Taman Resort & Spa (Bali Taman) yang paling oke. Noted!

Kesan pertama ketika menginjakkan kaki di halaman Bali Taman adalah Bali banget. Ya iyalah. ^^ Kedua, staf yang ramah. Yang paling menyenangkan adalah kamar saya di-upgrade dari standar ke deluxe. Saking senangnya, saya sampai tidak sempat bertanya kenapa saya diberi fasilitas upgrade. Barangkali karena saya pesan banyak kamar, atau bisa jadi karena memang masih ada kamar deluxe yang tersedia. Well, apa pun itu, terima kasih. Ketiga, ini:

Kolam renang tepat di samping restoran. Setelah sarapan, krucil-krucil itu langsung minta berenang. Ketika itu, kolam renang lumayan sepi. Hanya ada satu keluarga lain yang juga berenang. Oiya, Bali Taman juga terletak tepat di pinggir pantai. Lihat deh, ada perahu yang menjadi latar belakang foto kedua.

314

395

 

Asri. Pohon di mana-mana. Cocok banget untuk refreshing. Juga ada beberapa gazebo di sudut-sudut resor  untuk duduk-duduk santai.

398 414

 

Kamar luas. Pun kamar mandi. Lucunya lagi, kamar mandi di kamar yang saya tempati beratap setengah terbuka. Ehem.

422 419

 

Overall,  acara liburan Maret 2016 lalu berjalan lancar. Meskipun singkat dan hanya satu kota, namun sangat bisa dinikmati. Setidaknya, yang bekerja sempat merasakan weekend getaway. Refreshing. Karena Lumba-lumba Lovina, juga karena Bali Taman adalah pilihan yang tepat.

Yuk, main ke Lovina and share your lovely experience. ❤

***

Perilaku Christian Grey dan Hubungannya dengan Perjanjian Pranikah

Sudahlah masalah cinta-cintaan yang sangat standar, karena yang lebih menarik perhatian saya ketika membaca novel Fifty Shades of Grey adalah perihal perjanjian antara Dominant (pihak penyewa, dalam hal ini adalah Christian Grey) dan Submissive (pihak yang disewa, dalam hal ini Anastasia Steele). Yup, Mr. Grey ini senang menyewa perempuan untuk dijadikan objek eksperimen ketika berhubungan seks. Satu perempuan, satu kontrak, jangka waktu tiga bulan. Kesenangan inilah yang membuat Christian hendak menjadikan Anastasia sebagai perempuan sewaan keenambelas.

“The fundamental purpose of this contract is to allow the Submissive to explore her sensuality and her limits safely, with due respect and regard for her needs, her limits, and her well-being.” –Fifty Shades of Grey

Sejak awal novel, Christian memang dengan blak-blakan meminta Anastasia untuk menjadi Submissive sembari menyodorkan konsep surat perjanjian yang berisi hak dan kewajiban kedua belah pihak, apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan Dominant kepada Submissive. Submissive juga punya hak untuk menentukan kapan ia mau atau tidak mau diperlakukan dengan cara tertentu. Dan apabila Submissive berkata tidak, maka Dominant berkewajiban untuk menghentikan keinginannya. Selain hak dan kewajiban, perihal sanksi juga dijabarkan. Submissive dilarang melanggar isi kontrak, karena ada hukuman yang akan ditimpakan kepadanya. Jenis hukuman ditentukan sepenuhnya oleh Dominant.

Poin-poin dalam perjanjian tersebut, selain membahas hal-hal terkait kegiatan ketika berhubungan seks, juga memuat kehendak Dominant untuk memastikan bahwa Submissive selalu berada dalam kondisi prima. Untuk itu, Submissive berkewajiban menjaga kesehatan dengan memakan hanya makanan yang telah ditentukan, tidur minimal 8 jam sehari (yang kemudian dinegosiasi oleh Anastasia menjadi 6 jam), olahraga rutin empat kali seminggu (dinegosiasi menjadi tiga kali dalam seminggu), pemeriksaan kesehatan secara rutin, dan sebagainya.

Pada akhirnya, prostitusi bermartabat yang dipraktikkan oleh Christian memiliki dasar hukum yang harus ditaati. Dan karena isi perjanjian yang ditandatangani merupakan hasil dari proses negosiasi, maka dapat dipastikan tidak ada pihak yang dirugikan.

Barangkali bisnis prostitusi along with feminism issue harus mencontoh cara-cara Christian. Sebelum seseorang menggunakan jasa Pekerja Seks Komersial (PSK) misalnya, harus ada perjanjian tertulis mengenai apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh kedua pihak. Bila terjadi pelanggaran, maka ada sanksi yang dikenakan.

Bagaimana bila dibuat perjanjian bahwa sebelum bertransaksi, kedua belah pihak, misalnya, harus berada dalam keadaan bersih dan wangi? Bisa saja karena bau badan, salah satu pihak merasa tidak nyaman, lalu menyindir/mengejek lawannya, lalu pihak lawan tersinggung dan membunuh si penyindir. Bisa terjadi, kan?

Nikmat tak didapat, bui jadi akhirat.

Jadi, sebelum mau dipakai jasanya, membuat perjanjian tertulis rasanya bukan ide buruk. You know, just in case.

Apa?

Kalian bilang apa? Pernikahan?

Ya ya ya, mungkin dalam pernikahan juga perlu dibuat perjanjian. Biasanya, perjanjian pranikah hanya membahas tentang harta gono-gini. Boleh juga kalau ada yang mulai membuat perjanjian pranikah yang membahas tentang perilaku suami kepada istri dan sebaliknya. Jadi ketika ada praktik kekerasan dalam rumah tangga misalnya, itu adalah hasil dari kesepakatan kedua belah pihak. No drama.

Selain itu, perjanjian pranikah semacam itu penting supaya perempuan tak begini-begini amat. Sedih.

***

Maroon 5 and All

Daripada Singapura, sebenarnya yang lebih ingin saya kunjungi adalah Danau Toba atau Toraja, Derawan atau Menjangan, Angkor Wat atau Chiang Mai. Tapi kadang, keinginan tidak sejalan dengan kesempatan. Tahu-tahu konser Maroon 5 di Jakarta dibatalkan oleh penyelenggara. *patah hati*

Yang pertama saya lakukan begitu mendengar kepastian pembatalan konser tersebut adalah, secepatnya memutuskan, “Oke, ke Singapura kitah!” lalu saya pun berburu tiket masuk gelaran F1. Cukup beli tiket semurah mungkin karena saya tidak paham sama sekali tentang F1, pokoknya yang paling penting tiket itu bisa membawa saya pada sang idola.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Proses pembelian tiket berhasil. Pembelian tiket pesawat untuk tanggal tersebut juga berhasil. Pun pemesanan penginapan. Karenanya, saya pikir tinggal duduk manis saja menunggu tanggal 19 September 2015. Nyatanya, saya masih dihadapkan pada persoalan pelik tahun ini yang bikin saya pengin makan enak dan banyak. Ah, alasan. Bahwa proses pengambilan tiket fisik hanya bisa dilakukan hingga tanggal 10 September 2015. Sepertinya ini karena tiket yang saya beli adalah tiket kelas bawah hahaha–di kemudian hari ada selebtwit yang posting bahwa ia (bisa) mengambil tiketnya di hari H. Beda kelas, ya. Iya.

Tapi ya sudahlah, ya.

Tanggal 10 September 2015 jatuh pada hari kerja, artinya saya punya waktu di satu akhir pekan sebelum batas akhir pengambilan tiket. Dan karena saya bepergian tidak dalam grup, juga tidak menemukan pihak-pihak yang bisa dimintai tolong–yang ini karena malas berusaha sih, akhirnya saya memutuskan, “Oke, ke Singapura kitah!”

Realisasi untuk belanja transportasi naik jadi dua kali lipat. Karena saya tidak mau biaya penginapan juga naik dua kali lipat, maka saya berlaku layaknya pebisnis yang amat sibuk dengan jadwal rapat di mana-mana. Pergi pulang pada hari yang sama, 5 September 2015.

Di Singapore Post (kantor pos) di kawasan HarbourFront Centre, pengambilan tiket berjalan lancar. Prosesnya cepat, petugasnya ramah.

1448

19 September 2015

GUE NONTON MAROON 5 LIVE, OMG! HAHAHA!

Saya pikir Adam Levine yang akan paling menarik perhatian saya, ternyata yang lebih enak dilihat adalah Mickey Madden. Entah, ya. Mungkin ada kaitannya dengan suara Adam yang sedang tidak dalam kondisi maksimal. Agak serak. Beberapa kali berdeham untuk melegakan tenggorokan. Dan terlihat berusaha keras sekali untuk bisa mencapai nada tinggi. Di awal-awal, sih, masih dapat. Tapi di akhir, Adam memilih untuk membelokkan part-part bernada tinggi ke nada rendah. Get well soon lah, ya. *bikinin jeruk bakar plus kecap*

1654

1657

1660

Yang ditunggu-tunggu kesampaian juga. Dari awal tampil, Adam masih pakai baju lengkap. Pas di akhir, tahu-tahu sudah bertelanjang dada. *merona*

1661

Saya tidak mengambil banyak foto dan sama sekali tidak mengambil video. Dari awal merencanakan akan menonton mereka konser, saya sudah bertekad untuk ikut bernyanyi di semua lagu–meskipun di beberapa lagu saya cuma hapal bagian refreinnya saja, jadi cuma bagian itu yang saya nyanyikan. :’D

Tapi yang bikin saya heran adalah, ternyata ada juga penonton yang lebih suka mengambil foto dan merekam video daripada ikut menyanyi dan menggoyangkan badan. I mean, you cannot not dance ketika mereka membawakan lagu Makes Me Wonder, Moves Like Jagger atau Sugar. And you cannot not melambaikan tangan ketika mereka membawakan lagu Sunday Morning. Aaa~~~

Well, untuk bisa sampai di Zone 4 Padang Stage,  saya sadar bahwa mahal sekali harga yang harus dibayar demi menyaksikan idola. But in the end it’s all worth it. REALLY REALLY WORTH IT!

Dibuktikan dengan radang tenggorokan yang saya derita pasca heboh teriak-teriak. Itu kali pertama saya radang tenggorokan yang lumayan parah sampai saya harus ke dokter–biasanya sakit tenggorokan saya selesai dengan rutin minum air putih hangat.

Tapi jelas belum kapok lah.

WE WANT MORE! WE WANT MORE! WE WANT MORE!

❤ ❤ ❤

***